- Back to Home »
- cerpen »
- Gara-Gara Beasiswa
Posted by : bangpe
Sunday, 14 April 2013
Kantin kampus.
“Nih,
isi!” Jihan menyodorkan beberapa lembar kertas ke hadapanku. “Apa nih?”
tanyaku. Alisku bertaut saat aku membaca judul formulir yang masih
teronggok di atas meja, tak kusentuh. FORMULIR PENDAFTARAN BEASISWA BAGI
MAHASISWA KURANG MAMPU.
“Ga
butuh!” jawabku sambil menyorongkan kertas di atas meja dengan
telunjukku, menuju kepada Jihan. “Ck! Jangan sok ga butuh gitu deh, Ri!
Lumayan, tahu!” “Iya, lumayan, Ri. Buat nambah-nambahin biaya untuk
ganti alat lab yang kamu pecahin minggu lalu.” Anggi yang baru datang tiba-tiba langsung mendukung pernyataan Jihan.
“Ga
mau, aku ga mau punya sesuatu yang bukan hakku, aku takut nanti sesuatu
itu malah hilang atau diambil paksa dari tanganku.” Jihan mencibir
sedangkan Anggi hanya mengangkat bahu.
Memang
sih saat ini aku sedang butuh uang untuk mengganti alat laboratorium
yang minggu lalu tidak sengaja pecah gara-gara keteledoranku ketika
praktikum di laboratorium. Tapi, masa sih harus dengan cara seperti itu?
Ikut daftar beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu?
Aku-keluargaku-mampu, kok!
Aku
ga mau pakai cara itu, menurutku itu sama saja dengan menipu. Biar
bagaimanapun keluargaku masih mampu membiayai kuliahku. Aku ga mau
memalsukan pernyataan bahwa keluargaku tidak mampu, gimana kalau nanti
malah kejadian beneran keluargaku jadi ga mampu? Ihh…naudzubillah…jangan
sampe, deh!
Aku
menatap dua sahabatku yang kini tengah sibuk mengisi lembaran-lembaran
formulir. Jihan, ga ada tampang ga mampu. Ke kampus saja naik Honda
Jazz, ibunya aktivis sosial dan bapaknya salah satu anggota DPRD. Dari
mana ga mampunya coba?
Anggi, satu kos denganku, kamarnya yang bernuansa pink dan penuh pernak-pernik girly
persis berada di sebelah kamarku. Tajir ampun-ampunan karena katanya
ayahnya pengusaha. Tapi sekarang lagi belajar hidup sederhana dengan
cara jadi anak kos dan pulang pergi ngampus tanpa mobil pribadi. Bagian mananya yang ga mampu?
Biarpun
awalnya tergiur dengan rencana Jihan tentang beasiswa itu, apalagi
karena aku sedang butuh uang, (aku ga mau minta pada orang tuaku, karena
mereka sudah cukup repot untuk membaiayai aku dan tiga orang adikku)
aku mengurungkan niatku untuk ikut ikut mendaftar. Syukurlah hati
nuraniku masih belum buta, itu bukan hakku!!
Tapi, gimana caranya dapat uang buat ganti alat yang pecah itu?
Tolong aku, Tuhan!!
“Eh,
Ri, nanti kalo beasiswa kita tembus, jangan minta traktir loh ya!!”
ujar Jihan tanpa melapaskan pandangannya pada kertas-kertas yang sedang
ditekurinya.
“GA AKAN!!” sahutku ketus.
Hall Kampus.
“Oriiiiiiiii…!!!Aku
dapet, Ri!! AKU LOLOS BEASISWA!!” Anggi berteriak sambil berlari ke
arahku. Sudah satu setengah bulan sejak Jihan dan Anggi mengisi formulir
di kantin kampus. Dan sepertinya keberuntungan tengah berada di pihak
mereka. Ya, Jihan dan Anggi lolos beasiswa. Hanya dengan modal materai
seharga Rp 6000 dan secuil kebohongan, mereka bisa mengantongi uang
yang…yah…lumayan besar untuk ukuran anak kos sepertiku. Menyesalkah aku?
Tidak!! Kukatakan sekali lagi, aku tidak akan pernah menyesal karena
tidak mendapatkan sesuatu yang memang bukan hakku.
“Terus,
mau diapain uangnya?” tanyaku ketika Anggi sudah berjalan di sebelahku.
“Hmm…buat beli jeans sama rok denim hehe…” Aku tahu jeans dan rok denim
yang dia maksud pastilah bukan yang biasa di jual di toko-toko pinggir
jalan, karena Anggi selalu membeli barang yang sudah punya merk. She couldn’t live without branded goods sepertinya. Pemuja fashion sejati.
Tiba-tiba lagu Smile-nya Manhattan Transfer terdengar dari ponselku. Jihan menelepon.
“Ori, sayang! Inget janji lo kan ya? Lo ga boleh minta traktir gue ataupun Anggi, oke?! Ga sabar deh beli Nike baru. Daahh.”
TUUTT..TUTT…
Belum sempat aku bicara sepatah katapun, Jihan sudah menutup ponselnya. Dia nelpon cuma buat ngasih tau itu? Ga penting banget!!
Kos, pagi hari.
“Liat
nih, Ri! Baguskan?!” Anggi membuka pintu kamarku sambil memamerkan
jeans dan rok denim yang kemarin baru saja dibelinya. Aku hanya
mengangguk. “Mau langsung dipakai?” tanyaku. “Ga, mau aku cuci dulu,
dipakainya nanti malam kalau udah kering, buat nonton sama Randi,”
tumben-tumbennya Anggi nyuci sendiri, biasanya dia langsung ke laundry.
“Ga apa-apa kan, sekali-kali, ini sebagai tanda sayangku sama jeans dan
denimku,” jawabnya. Aneh banget alasannya. “Udah dulu ya, Jeng Ori, aku
mau nyuci dulu.”
Tiba-tiba
aku teringat, “Eh, Nggi, kalo mau jemur baju jangan di belakang. Tembok
belakang sedang diperbaiki, takut ada orang iseng yang mau nyuri jemuran kamu,” sayangnya Anggi sudah keburu pergi ke tempat cuci. Entah dia dengar kata-kataku atau tidak.
Kantin kampus, jam makan siang.
“Kamu kenapa, Han?” tanyaku pada Jihan yang menjatuhkan kepalanya di meja kantin. “Iya, kamu kenapa sih? Kok lesu gitu? Eh…by the way sepatu barunya mana?” Anggi melongok ke bawah meja. “Ck! Ga usah ungkit-ungkit masalah sepatu, deh, sebel gue!” Aku dan Anggi berpandangan. “Emang sepatu barunya kenapa?”
Jihan
mengangkat kepalanya lalu memandangi kami bergantian. “Kemarin aku udah
beli sepatunya,” Jihan memulai ceritanya. “Terus sorenya aku ikut
mamaku, kunjungan ke panti jompo. Di depan salah satu ruang aku lepas
sepatu, dan ga tau dari mana tiba-tiba ada anjing yang bawa lari
sepatuku.”
HUAHAHAHAHA…aku
ga bisa menahan tawaku. “Aku bilang juga apa. Bendanya diambil paksa
gara-gara emang bukan hak kamu.” Ujarku menanggapi, “Hati-hati, Nggi!”
Aku tersenyum penuh arti pada Anggi.
Kos, sore hari.
Setelah
dari kantin tadi, Jihan, seperti biasa, mengantarku dan Anggi pulang.
Sesampainya di kos aku langsung menuju kamarku. Sedangkan Anggi berbelok
ke halaman belakang. Belum sempat aku membuka pintu, aku mendengar
teriakan Anggi.
“ORIIIIIIIII…..!!! JEANS SAMA ROK DENIMKU ILANG!!!”
Aku tidak dapat menahan senyumku.
Kan, aku bilang juga apa?!
Written by Gerhana Lestari (kabid keilmuwan IMM FTI 2009-2010)